HIDUP DI BAWAH NAUNGAN AL-QUR’AN




 Islam adalah jalan hidup yang sempurna (al-kamil) dan universal (asy-syamil). Islam merupakan pandangan hidup yang menentukan tingkah laku kaum muslimin dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah titik pusat (central) yang menjadi tujuan segala sesuatu, sedangkan posisi manusia di samping menjadi hamba (‘abdun) yang mengabdi kepada-Nya juga menjadi khalifah di muka bumi (khalifah fil-ardh). Islam juga merupakan sebuah sistem kehidupan yang mengatur segala urusan hidup manusia, tentunya dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai basis bagi berdirinya bangunan umat, masyarakat dan negara. Maka dari itu, Islam bukan sekedar agama tapi Islam juga merupakan sebuah bangunan peradaban yang bersumberkan pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Al-Qur’an.
Agar kaum muslimin menyadari betapa pentingnya keterikatan antara dirinya dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala, cenderung hidup hanya untuk Islam, dan berjuang demi menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia sebagai bukti amar maruf nahi munkar; maka langkah awal yang harus ditempuh adalah harus dibangkitkan pada diri masing-masing kaum muslimin dengan rasa kecintaannya terhadap Al-Qur’an dan semangat merealisasikan kecintaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan mengikatkan diri pada hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasa rindu untuk hidup di bawah naungan Islam yang berlandaskan Al-Qur’an sangat diperlukan. Demikian pula rasa takut terhadap azab Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan menimpa apabila tidak menerapkan Al-Qur’an dan tidak terikat dengan hukum-hukumnya.
Dengan demikian, bangkitnya semangat kaum muslimin hanya dapat terwujud dengan membangkitkan semangat kecintaan terhadap Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Apabila kita melihat fenomena yang ada, kecintaan terhadap Al-Qur’an hampir meredup di hati kaum muslimin, bahkan tidak lagi berpengaruh dalam kehidupan mereka dan tidak mampu lagi menyalakan semangat untuk mengikatkan diri pada hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Fakta yang semacam ini tentunya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Butuh sebuah solusi konkrit yang tidak lain adalah kembali kepada Al-Qur’an.
Al-Quran perlu menjadi sistem kehidupan (manhaj al-hayah) dalam diri kaum muslimin. Tanpa pedoman Al-Quran berarti kaum muslimin mengambil sistem lain sebagai acuan kehidupan. Apabila hal itu terjadi, maka mereka sesunggunya telah terjerumus ke dalam tipu daya syaitan yang mengakibatkan kehinaan dunia dan akhirat. Sungguh merugi orang-orang yang demikian itu. Namun, apabila mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai tuntunan, tentunya beruntunglah mereka karena dengan demikian mereka mau dan mampu berinteraksi (at-ta’amul) dengan Al-Quran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Quran kepada manusia tidak lain adalah agar manusia membacanya, memahami isinya dan berbuat menurut petunjuknya. Dengan pertolongan kitab suci ini, mereka diperintah untuk menegakkan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi sesuai dengan perintah-Nya yang tertuang di dalamnya. Karena memang, Al-Quran datang untuk memberikan jalan yang terang dan rambu-rambu yang berupa hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia datang untuk menjadikan mereka wakil Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi. Sejarah telah membuktikan bahwa apabila mereka (umat Islam) berbuat menurut petunjuk-petunjuk yang terkandung dalam Al-Qur’an, maka kitab suci ini akan memperlihatkan kemampuannya untuk menjadikan mereka imam dan pemimpin dunia. Seorang muslim yang baik adalah dia yang menjadikan Al-Qur’an sebagai imam, panutan dan petunjuk baginya. Ketika Al-Qur’an mengatakan halal, maka dia menghalalkannya, begitupun ketika Al-Qur’an mengatakan haram, maka diapun akan mengharamkannya.

Dalam Islam, tidak ada dakwah tanpa didasari Al-Quran. Begitu juga tidak akan ada keberkahan dalam suatu lembaga atau sebuah organisasi dakwah tanpa interaksi mendalam dengan Al-Quran. Kita sebagai umat Islam adalah satu-satunya umat yang paling beruntung di dunia, karena kita memiliki wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terpelihara dalam keadaan utuh dan dalam bentuknya yang asli, bebas dari campur tangan (intervensi) manusia. Setiap kata-kata yang ada di dalamnya masih tetap sama dengan waktu ia diturunkan kepada baginda Rasulullah SAW.
Untuk itu, agar Al-Qur’an menjadi pembimbing, panutan serta asas pijakan bagi jalan hidup seorang muslim, maka dibutuhkan adanya kesiapan mental serta kejernihan dalam berfikir dengan cara menjauhkan diri dari segala bentuk kemaksiatan. Karena kedua hal tersebut merupakan syarat utama atau pintu masuk untuk dapat mengakses Al-Qur’an. Tanpa keduanya, jangan berharap Al-Qur’an dapat masuk ke dalam sanubari seorang muslim.
Adapun bukti kemukjizatan Al-Qur’an sudah tidak diragukan lagi. Kekuatan ayat-ayat Al-Qur’an dalam mamberikan bimbingan dan petunjuk jalan kebenaran telah tercatat dengan tinta emas. Sebagaimana pada zaman Rasulullah SAW, Al-Qur’an telah membuktikan keberhasilan da’wah dan perjuangan beliau dalam kurun waktu 23 tahun; 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Begitu juga pada masa para  sahabat, melalui Al-Qur’an, mereka mampu merubah peradaban yang sebelumnya berkebiadaban menjadi peradaban yang yang berkeadaban. Mereka telah memberikan sumbangan besar bagi kemajuan peradaban manusia. Ini semua tidak lain adalah peranan Al-Qur’an yang merupakan mukjizat Allah Subhanahu wa Ta’ala sepanjang masa.
Sungguh kekuatan cahaya Al-qur’an begitu luar biasa. Ia akan membawa pembacanya kepada keta’atan, ketenangan dan kedamaian dalam menjalani kehidupan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin bagi siapa yang memahami Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat. Semakin banyak seseorang bergaul atau berinteraksi dengan Al-Qur’an maka akan semakin bertambah keimanannya yang dimana keimanan inilah yang akan membimbing kepada keta’atan dan memudahkan baginya untuk istiqomah dalam mengamalkan hukum-hukum Islam.
Seorang yang telah tertanam pada dirinya kecintaan terhadap al-Qur’an berarti dia lebih suka berinteraksi dengannya dibandingkan selainnya. Ia akan lebih suka mengikuti
kemauan dan kehendaknya dibandingkan kemauan selainnya. Baginya, tidak ada hari yang dilaluinya tanpa membaca, mempelajari serta mentadabburi Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an telah menjadi imam, penuntun serta petunjuk yang menaungi jalan hidupnya. Wallahu a’lam bish-Shawwab.
 Oleh: Alex Nanang Agus Sifa, S.Fil.I (Kepala Al Irsyad Al Islamiyyah Boarding School Purwokerto)

Postingan populer dari blog ini

Sosialisasi Program 3 Bulan Sekolah di Mesir