BOARDING SCHOOL: A Center of Excellence (Bagian II)



Saat ini kita telah memasuki era milenium baru yang disebut dengan era globalisasi. Dalam era ini, informasi dapat diakses begitu cepat melalui berbagai jenis alat teknologi. Memang, kemajuan teknologi mengandung banyak nilai positif jika digunakan dengan semestinya, tapi jika tidak, justru akan menjadikan boomerang (malapetaka) bagi para penggunanya.
Jika kita amati, akhir-akhir ini kecanggihan teknologi telah banyak disalahgunkan, terutama oleh para remaja yang difasilitasi oleh para orang tua mereka. Dengan dalih kasih sayang, para orang tua membelikan gadget/hape model terbaru yang bukan hanya bisa digunakan untuk telefon/sms, tapi juga untuk menonton video bahkan bisa secara online ke dunia maya (internet). Namun yang sangat disayangkan, pemberian fasilitas tersebut tidak dibarengi dengan pengontrolan, pendampingan apalagi bimbingan secara intensif oleh para orang tua.
Lebih lanjut, jika kita melihat kejadian-kejadian di sekitar kita, baik itu kejadian di lingkungan tempat tinggal kita atau yang kita temukan melalui media televisi, sosial maupun surat kabar, maka kita akan tertegun dengan berbagai macam kasus terkait kenakalan remaja. Padahal, hampir sebagian besar dari mereka masih duduk di bangku sekolah atau berada di lingkungan pendidikan. Ini sangat memperihatinkan.
Parahnya, tidak jarang kita mendengar tindak kriminal terjadi di dunia pendidikan (para remaja) yang awalnya disebabkan oleh komunikasi melalui teknologi terkini. Contoh konkritnya adalah kecanduan game, narkoba, kenakalan remaja yang berupa keterlibatan perkelahian, tawuran bahkan hubungan antar lawan jenis yang melampaui batas. Sehingga tidak sedikit orang tua yang akhirnya terkena dampak buruk oleh kelakuan anak mereka sendiri. Hal ini menjadi bukti problematika yang dihadapi oleh dunia pendidikan semakin kompeks dan tantangan semakin berat.
Kenakalan remaja bisa dikatakan meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum agama maupun negara yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut tidak lain dan tidak bukan akan merugikan diri sendiri, orang-orang di sekitarnya, terlebih kedua orang tuanya.
Untuk itu, diperlukan adanya solusi nyata dalam dunia pendidikan yang dapat mengatasi permasalahan tersebut. Dan salah satu solusi jitu saat ini yang dapat dijadikan sebagai alternatif terbaik untuk para orang tua menyekolahkan putra putri mereka adalah sekolah berasrama atau sekolah yang sekarang dikenal dengan istilah “Boarding School.” 

Melalui sistem Boarding, para peserta didik hidup selama 24 jam dalam pemantauan dan kontrol yang total dari pengelola, guru, dan pengasuh. Di samping itu, di sekolah dengan sistem boarding, seluruh aktifitas dan kegiatan peserta didik dirancang memiliki muatan pendidikan, dari mulai bangun tidur hingga mereka tidur kembali.
Peserta didik betul-betul dipersiapkan untuk masuk ke dalam dunia nyata dengan modal yang luar biasa, tidak hanya kompetensi akademis, tapi juga skill-skill (keterampilan) seperti mahir bahasa internasional, leadership dan lain sebagainya sehingga mereka mempunyai senjata yang ampuh untuk memasuki dan manaklukan masa depan mereka.
Di sekolah berasrama/boarding, peserta didik diajarkan untuk dapat menjadi manusia yang berkontribusi besar bagi kemanusiaan. Mereka tidak hanya hidup untuk dirinya dan keluarganya, tapi juga harus bisa berbuat untuk agama, bangsa dan negara. Oleh sebab itu dukungan fasilitas terbaik, tenaga pengajar berkualitas, dan lingkungan yang kondusif harus didorong untuk mencapai cita-cita tersebut.
Selain itu, di sekolah berasrama/boarding, peserta didik bisa belajar lebih maksimal, fokus, berinteraksi langsung dengan guru, pembimbing (musryif) dan juga seluruh akativitasnya selalu terkontrol di asrama. Sehingga mereka bisa belajar bagaimana cara bersosial, hidup mandiri bahkan memimpinDengan demikian, pendidikan kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik dapat terbiasa dan terlatih lebih baik dalam kesehariannya.
Pada dasarnya, prinsip utama pendidikan Islam dengan sistem boarding adalah berupaya mengintegrasikan ayat qauliyah (ayat Al Qu’an) dan kauniyah (ayat/tanda kebesaran Allah dalam alam semesta), iman dan ilmu, aspek fikriyah dan ruhiyah dengan jasadiyah yang diimplementasikan dalam pembelajaran dan hubungan sosial peserta didik. Yang mana termuat dalam kegiatan kurikuler, ko-kurikuler, ekstrakurikuler, baik di sekolah, asrama dan lingkungan (bi’ah) yang dipantau oleh para dewan guru, wali kelas, pembimbing dan pengasuh selama 24 jam. Di sekolah berasrama/boarding, semua aktivitas peserta didik telah diprogramkan, diatur dan dijadwalkan dengan jelas. Di samping itu juga, aturan lingkungan/milieunya syarat dengan muatan nilai-nilai moral, akhlak serta adab.
Sebagai kesimpulan dalam artikel kedua ini, dapat dikatakan, bahwa, kehadiran sekolah boarding sudah seharusnya dijadikan solusi serta alternatif pendidikan bagi para orang tua yang ingin menyekolahkan putra putrinya. Seiring dengan pesatnya modernitas, dimana orang tua tidak hanya suami yang bekerja tapi juga istri bekerja sehingga anak tidak lagi terkontrol dengan baik, maka boarding school adalah tempat terbaik untuk menitipkan anak-anak mereka, baik makannya, kesehatannya, keamanannya, sosialnya, dan yang paling penting adalah pendidikanya yang sempurna. Bersambung….
Oleh: Alex Nanang Agus Sifa, S.Fil.I (Mudir SMP-SMA Al Irsyad Al Islamiyyah Boarding School Purwokerto)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sosialisasi Program 3 Bulan Sekolah di Mesir