BISA KARENA TERBIASA



 Perbedaan mendasar antara orang yang gagal dan berhasil dalam hidup ini adalah terletak pada kebiasaan yang dilakukannya setiap hari. Disadari atau tidak, apa yang kita lakukan setiap harinya lama kelamaan akan menjadi sebuah kebiasaan. Jika kita kerap datang terlambat, bangun siang, mengeluh, berpikir negatif, maka lambat laun hal ini akan menjadi kebiasaan. Dan apabila sudah menjadi kebiasaan, secara perlahan namun pasti akan membentuk karakter kita. Jadi kebiasaan seseorang sangatlah berpengaruh pada kemajuan atau kemunduran dirinya.
Orang yang berhasil memiliki kebiasaan yang berbeda dari kebanyakan orang. Mereka begitu konsisten menjalankan perannya, berfokus pada tujuan, mengisi diri dengan terus belajar, memprogram pikirannya tiap pagi untuk selalu positif dan bersyukur, disiplin serta berpegang teguh pada komitmen untuk keberhasilannya.
Pertanyaannya, bagaimana dengan kebiasaan kita setiap harinya? Jika kita merasa bahwa apa yang biasa kita pikirkan, bicarakan dan lakukan selama ini, ternyata tidak memberi nilai manfaat, sekaranglah saatnya bagi kita untuk berubah. Dan mengubah kebiasaan itu dibutuhkan sebuah komitmen, konsistensi dan istiqomah untuk terus menerus mengupayakan perubahan yang lebih baik dan bermanfaat untuk diri sendiri dan orang banyak.

Ada sebuah kisah menarik tentang pentingnya pembiasaan. Suatu hari rakyat bersorak-sorai menyaksikan kehebatan keahlian memanah seorang panglima yang luar biasa. Seratus kali anak panah dilepas, seratus anak panah tepat mengenai sasaran. Hampir setiap orang memujinya. Namun, diantara kata-kata pujian yang diucapkan oleh banyak orang tersebut, tiba-tiba seorang tua penjual minyak menyeletuk: “Panglima memang pemanah hebat, tapi itu hanya keahlian yang diperoleh dari kebiasaan yang terlatih.”
Panglima dan seluruh orang yang hadir memandang dengan tercengang dan bertanya-tanya apa maksud perkataan orang tua penjual minyak itu. Tunggu sebentar!” Jawab tukang minyak sambil beranjak dari tempatnya. Ia mengambil sebuah koin Tiongkok kuno yang berlubang di tengahnya. Koin itu diletakkan di atas mulut botol guci minyak yang kosong. Dengan penuh keyakinan, si penjual minyak mengambil gayung penuh berisi minyak, kemudian menuangkan dari atas melalui lubang kecil di tengah koin tadi sampai botol guci terisi penuh. Hebatnya, tidak ada setetes pun minyak yang mengenai permukaan koin tersebut.
Panglima dan rakyat tercengang. Mereka bersorak-sorai menyaksikan kepiawaian dan keahlian si penjual minyak. Dengan penuh kerendahan hati dan hormat, tukang minyak berujar:Itu hanya keahlian yang diperoleh dari kebiasaan yang terlatih. Kebiasaan yang diulang terus-menerus akan melahirkan keahlian.”
Dalam kisah ini, kita dapat belajar bahwa betapa luar biasanya kekuatan kebiasaan. Kita mungkin pernah mendengar ungkapan: Habit is a Power”(kebiasaan adalah sebuah kekuatan). Ya, ungkapan tersebut memang benar adanya. Hasil dari kebiasaan yang terlatih dapat membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah dan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Demikian pula, untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan, kita membutuhkan kebiasaan sukses. Kebiasaan-kebiasaan sukses –sebagaimana yang disebutkan di atas- itu hanya bisa dibentuk melalui kebiasaan seperti berpikir positif, antusias, optimis, disiplin, integritas dan tanggung jawab.

Demikian luar biasanya kekuatan kebiasaan, bahkan Aristoteles pernah mengatakan bahwa: “kita adalah apa yang kita kerjakan berulang kali, dengan demikian, kecemerlangan bukan sekedar tindakan, tetapi kebiasaan.” “Selalu pilih jalan yang tampak paling baik sesulit dan sekeras apapun jalan itu, kebiasaan akan membuat semuanya jadi mudah dan ramah,” kata Pythagoras melanjutkan.
Masih ada kaitannya dengan kebiasaan, Donald Riggs juga mengatakan bahwa: “orang sukses adalah orang yang membentuk kebiasaan mengerjakan sesuatu yang tidak ingin dikerjakan orang gagal.” Dan menurut J.C. Penney, cara terbaik untuk menghentikan kebiasaan buruk adalah jangan pernah memulainya.
Jika kita mengamati jarum jam, detik demi detik, setiap detik menjadi masa lalu. Mula-mula kita membentuk kebiasaan dan akhirnya kebiasaanlah yang membentuk kita. Sungguh, awal dari kehidupan kita bukanlah rencana kita dan saat berakhirnya pun bukan keputusan kita, tetapi telah jelas bagi kita bahwa tugas kita adalah menjadikan waktu antara yang awal dan akhir itu sebagai sebuah perjalanan yang indah. Yang bisa kita capai dengan usaha serta upaya kita dan dengan bantuan yang penuh kasih dari Tangan Yang Tidak Terlihat (Invisible Hand), yaitu Allah SWT melalui kebiasaan-kebiasaan baik yang kita lakukan setiap harinya dengan penuh kesungguhan. Wallahu a’lam bish shawwab.
Oleh: Alex Nanang Agus Sifa, S.Ud (Mudir SMP-SMA Al Irsyad Al Islamiyyah Boarding School Purwokerto) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sosialisasi Program 3 Bulan Sekolah di Mesir

Pendaftaran Online Gelombang 3